Wisata Bendi; Cara Majene Menulis Ulang Sejarahnya
Oleh: Zulkarnain Hasanuddin,SE,.MM (Dosen STIE YAPMAN / Founder Garansi Institute Sulbar)
Majene hari ini sedang menulis ulang dirinya. Bukan dengan meninggalkan masa lalu, tetapi dengan merawatnya sebagai sumber masa depan.
Di tengah arus modernisasi yang kerap menyeragamkan wajah daerah, langkah Dinas Pariwisata Majene mengembangkan produk wisata berbasis kearifan lokal patut dilihat sebagai pilihan strategis sekaligus kultural.
Sebagai kota tua, Majene tidak kekurangan cerita. Memiliki lanskap sejarah, tradisi, dan memori yang kaya. Namun, kekayaan itu tidak serta-merta menjadi daya tarik tanpa sentuhan inovasi.
Di sinilah peran kepemimpinan daerah diuji, bagaimana mengubah potensi menjadi pengalaman, dan pengalaman menjadi nilai ekonomi. Hadirnya wisata bendi menjadi contoh konkret bagaimana inovasi tidak harus selalu berangkat dari sesuatu yang baru, melainkan dari cara baru dalam memaknai yang lama.
Bendi,yang selama ini lekat sebagai alat transportasi tradisional, ditransformasikan menjadi atraksi wisata yang hidup. Bendi bukan hanya alat tranportasi, tetapi medium narasi, membawa wisatawan menyusuri jejak kota tua, merasakan ritme lokal, dan berinteraksi langsung dengan denyut kehidupan masyarakat.
Menariknya, gagasan ini bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Tetapi memiliki akar pada momentum Festival Kota Tua Majene Tahun 2019, sebuah peristiwa yang pernah menempatkan Majene dalam peta event nasional.
Artinya, wisata bendi hari ini adalah bentuk keberlanjutan, sebuah upaya menjaga nyala dari gagasan yang pernah tumbuh, agar tidak padam oleh pergantian waktu dan kepemimpinan.
Dalam perspektif akselerasi pariwisata, langkah ini penting. Pariwisata yang bertumpu pada kearifan lokal cenderung lebih berkelanjutan karena memiliki akar sosial yang kuat.
Karena tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat, dari kusir bendi, pelaku UMKM, hingga komunitas budaya. Dengan kata lain, wisata tidak lagi menjadi milik segelintir pelaku industri, melainkan menjadi ruang partisipasi bersama.
Namun demikian, tantangan ke depan tidak ringan. Inovasi seperti wisata bendi memerlukan konsistensi, kurasi pengalaman, serta integrasi dengan ekosistem pariwisata yang lebih luas, mulai dari penataan kawasan, promosi, hingga peningkatan kualitas layanan. Tanpa itu, berisiko hanya menjadi euforia sesaat.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan hanya program, tetapi keberlanjutan visi. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap inovasi tidak berhenti pada seremoni, harus berkembang menjadi sistem yang hidup dan adaptif. Kolaborasi dengan berbagai pihak, komunitas, pelaku usaha, hingga lembaga pendukung, menjadi kunci agar geliat ini terus bergerak.
Pada akhirnya, Majene sedang berada di persimpangan penting, antara menjadi kota tua yang dikenang, atau kota tua yang dihidupkan kembali. Wisata bendi adalah satu langkah kecil ke arah yang benar. Jika dirawat dengan serius, ini bukan hanya akan menjadi ikon, tetapi juga menjadi pemantik kebangkitan ekonomi dan identitas lokal.
Dan di situlah harapannya, Majene tidak hanya dikunjungi, tetapi juga dirasakan. Sebuah kota tua yang tidak sekedar menyimpan sejarah, melainkan terus menghidupkannya. (*)









